Rabu, 22 Februari 2012
Renungan III
mencari air dan makanan untuk menopang sebatang pohon di atasnya.
Ketika pohon tumbuh, berdaun rimbun, berbunga indah,
berbuah dan menampilkan keelokannya pada dunia dan mendapatkan pujian
AKAR tetap tidak iri, ia tetap bersembunyi dalam tanah.
Itulah makna sebuah KETULUSAN dan KEIKHLASAN
Manusia yang memiliki perpaduan tersebut;
tekun, sabar, tegar, tulus dan ikhlas, bak AKAR
Merekalah perjuangannya para SYUHADA yang tak surut langkahnya
oleh beratnya masalah dan cobaan
Semoga kita dapat meneladaninya.
Dikirim sahabat Didi 8 Februari 2012
Kata Hikmah
Bila masih ada TAHLIL, hati kita tidak merasa TERKUCIL
Dan bila ada BASMALAH, semua masalah akan terasa MUDAH
Tak ada ujian yang tak bisa terselesaikan bila semua kembali kepada ALLAH
Mari kita tersenyum menjalani hidup ini
Kiriman sahabat Didi 15 Februari 2012
Minggu, 19 Februari 2012
Pengalaman Tak Terlupakan
SEMANGAT PENJUAL KORAN
Hampir sebagian penduduk Bekasi bekerja di Jakarta. Karena jaraknya cukup jauh umumnya mereka berangkat lebih awal agar tidak terjebak macet. Demikian juga saya. Agar lebih mudah mengatur waktu dan menghemat ongkos saya lebih sering berboncengan motor bersama suami. Lagi pula lokasi pekerjaan kami searah. Sebagai seorang guru tentunya saya harus lebih awal hadir di sekolah agar dapat menyiapkan kelengkapan mengajar yang saya perlukan dan masuk tepat waktu yaitu pukul setengah tujuh.
Lokasi tempat saya mengajar berada di lingkungan perumahan penduduk dan agak ke dalam.Artinya lokasi tersebut bukan berada di pinggir jalan raya seperti umumnya sekolah-sekolah negeri yang terletak di perkotaan. Meskipun lokasinya kurang menguntungkan tetapi lahannya sangat luas untuk ukuran Jakarta. Halamannya pun ditanami pohon yang dapat menghasilkan seperti ubi rambat, ubi kayu, jambu air, mangga, belimbing, pisang. . Yang semuanya tertata rapi dan terawat dengan baik. Lingkungan yang sangat menyenangkan.
Ada dua jalur yang dapat ditempuh untuk menggapai lokasi tersebut. Kami lebih senang menempuh jalur yang lebih banyak melewati perumahan penduduk karena tidak terlalu ramai ketimbang jalur yang melewati pasar.
Perjalanan itulah yang mempertemukan kami dengan seorang penjual koran yang tubuhnya tidak memiliki kesempurnaan. Kedua kakinya kecil sehingga ia harus merangkak ketika menjajakan korannya.Saat merangkak ia pergunakan sandal jepit untuk mengalas telapak tangannya. Untuk mengalas lututnya ia pergunakan karet ban yang diberi tali sebagai pengikat. Korannya ia masukkan ke dalam kantung plastik dan digantungkan di lehernya.
Pekerjaan itu tetap ia lakukan meskipun hari hujan. Tubuhnya diselubungi plastik ia merangkak, berteriak, menawarkan korannya kepada pelanggan. Ia susuri jalan-jalan, gang-gang, lorong-lorong dan tanah becek di tengah guyuran hujan. Dengan semangat penuh pengharapan serta tidak menyerah dengan keadaan yang ditakdirkan Allah kepadanya.
Pertemuan ini telah berlangsung lama yang membuahkan pengalaman batin yang sangat dalam. Tidak cukup itu. Penghargaan diam-diam atas semangat berusaha yang ia miliki luar biasa itu. Berbeda betul dengan orang-orang yang saya temui di bus-bus, di terminal-terminl, di stasiun-stasiun, atau di tempat-tempat lain mereka lebih senang menengadahkan tangannya meminta-minta, mengharapkan belas kasih orang banyak meskipun memliki tubuh yang sehat dan kuat.
Belakangan saya tidak menjumpai dia menjajakan koran seperti hari-hari sebelumnya. Rupanya ia telah memiliki gerobak beroda tiga yang dapat dikendalikan dengan tangannya. Gerobak itu sangat sederhana terbuat dari papan biasa yang diberi steer mobil dan tiga buah ban sepeda untuk menggerakkan roda gerobak tersebut dikendalikan dengan tangannya. Sedangkan mengendalikan gerobak untuk belok kanan dan belok kiri melalui steer mobil yang terpasang di bagian depan gerobak. Koran-koran yang akan dijual disusun di bagian belakang dan jumlahnya lebih banyak. Jika hari sudah tinggi ia “mangkal” di pasar menjual sisa koran yang belum habis terjual di sela-sela kesibukannya ia tidak pernah alpa menunaikan ibadah shalat wajib ataupun shalat Jum’at.
Perjalanan batin yang saya peroleh ini saya ceritakan juga pada anak-anak di rumah serta siswa-siswi si sekolah. Tidak lain agar mereka dapat menjalankan hidup ini penuh rasa syukur serta semangat yang kuat untuk meraih masa depan yang masih panjang. SEMOGA.
Rabu, 30 November 2011
Renungan II
mengarungi belantara tak berujung,
mengarungi lautan tak bertepi,
menapaki keinginan tak pernah usai
dengan penuh ambisi.
Rabu, 16 November 2011
Renungan I
padahal setiap saat anugerah dan nikmat-Nya turun kepada kita
meskipun dosa dan kemaksiatan selalu kita perbuat.
Kadang kita alpa bersyukur tatkala siang dilalui
padahal perlindungan dan pemeliharaan-Nya terus menerus mengayomi
meskipun kita menentang-Nya dengan dosa-dosa dan keburukan .
Kadang kita alpa bertaubat kala malam menjelang
padahal Allah memberi kesempatan pengampunan dosa-dosa kita
meskipun kesalahan kita seluas lautan.
Senin, 14 November 2011
Mengaitkan Materi Gurindam dengan Nilai Agama
NISCAYA DAPAT DARIPADANYA FAEDAH.
Gurindam tersebut menunjukan bahwa lidah harus diwaspadai,karena lewat lidah manusia mudah tergelincir ke dalam hal-hal yang tercela,seperti sering menggunjing,mengungkap aib orang lain,mencela,mengumpat memuji diri dan berkata dusta.Padahal dalam upaya mengenal diri dan Allah manusia harus memelihara anggota tubuhnya agar tetap suci dan tidak tercemar oleh perbuatan tercela.Lidah dan mulut harus terpelihara agar selalu berucap benar dan penuh pertimbangan,sopan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak sia-sia.”Apabila terpelihara lidah/niscaya dapat daripadanya faedah”Jika kita tidak memelihara lidah maka dampaknya adalah banyaknya fitnah yang bermunculan di mana-mana,hampir tak ada satu tempat pun di dunia ini yang selamat dari fitnah akibat lidah.
Menjaga lidah memang tidaklah mudah.Akan tetapi,orang yang mampu berarti dialah orang yang akan mendapat kesalamatan di dunia dan akhirat.Suatu ketika,Sahal bin Sa”ad RA bertanya kepada Rasululloh SAW ,” Wahai Rasululloh ,apakah jalan keselamatan? “ Nabi menjawab,Tahanlah lidahmu perluaslah rumahmu dan tangisilah kesalahanmu”( HR Tirmidzi ).Dalam hadis lain Rasululloh SAW bersabda ,” Siapa yang mnjamin untukku apa yang ada diantara dua janggutnya (lidah ) dan dua kakinya, maka aku menjamin baginya surga”(HR Bukhori )Betapa hebatnya orang yang mampu menjaga lidahnya.Sampai –sampai dikatakan dalam sebuah hadis bahwa orang yang menjaga lidahnya ,mampu mengalahkan setan
“Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan,karena sesungguhnya dengan demikian,kamu dapat mengalahkan setan “ (HR Thabrani)Begitulah para sahabat,mereka lebih rela mengunci lidahnya dari perkataan yang tidak diridhoi Allah dan Rasul-Nya.Setiap perkataan pasti ada yang mncatat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT .Karena itu,menjaga lidah merupakan salah satu upaya untuk menghindri hisab di akhirat.
Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Q.S Qaaf:18) Agar kita dapat terhindar dari besarnya bahaya lidah,hindarilah bicara yang tidak bermanfaat atau mengambil sikap diam,Rasululloh Saw bersabda’”Siapa yang diam,pasti selamat ( HR Tirmidzi) Sumber Al-Fitrah, Muhammad.2010.Lidah Tak Bertulang.Jombang.Lintas Media.